بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Inilah jalan cinta para
pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan
tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti Sepenggal Cinta ‘Ali bin Abhi Thalib.
Ia mempersilahkan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah
pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan bagi pencinta sejati,
selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
dan di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..
Ini bukan kisah milik ‘Ali bin
Abhi Thalib namun tentang Salman Al Farisi. Kisah yang mengajarkan
keikhlasan, rasa tidak pernah memiliki, tentang kita sebagai manusia
yang menyusun beberapa rencana untuk niat ibadah dan mencapai visi-visi
besar dalam kehidupan. Sebagaimana takdir yang tidak pernah diketahui
adalah rencana Ilahi, rencana-rencana kita pada hakikatnya adalah untuk
menyesuaikan dengan rencana-NYA.
“Engkau ingin, aku ingin, dan dia ingin, tetapi ALLAH menetapkan apa yang DIA inginkan.” – Quraish Shihab
Salman Al Farisi
memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya
sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di
hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan
dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan
menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa
asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah
tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan
rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang
gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang
pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara
untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada
shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
“Subhanallaah.. wal
hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum
bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup,
beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah
kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
“Saya adalah Abud Darda’, dan
ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya
dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan
jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah
Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai
ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar
putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat
Bani Najjar yang paling murni.
“Adalah kehormatan bagi kami”,
ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia.
Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat
Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya
serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab
yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
“Maafkan kami atas
keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang
bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka
dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak
pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan
yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan
yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik
kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi
saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan
sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut
tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu
dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas
orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
“Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
Cinta tak harus memiliki..
dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini!!
Salman mengajarkan kita untuk
meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit;
malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak
mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di
negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering
merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman.
Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi
yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali
membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka
menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk
menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan
kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti
seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh ALLAH
untuk mengayakan nilai guna karunia-NYA. Maka rasa memiliki kadang
menjadi sulit ditepis..
” Cinta karena ALLAH.. akan
membuatmu merasa tidak perlu memiliki meskipun dalam hatimu engkau
sangat ingin. Adalah bagaimana engkau bisa ikhlas ketika dia ternyata
lebih mencintai orang lain dan bahkan engkau pun bisa berdoa agar mereka
bisa berbahagia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar